BAGIAN KE – 3 (TIGA)

PEREMPUAN DAN HAK ATAS PEKERJAAN

KKIPK – “PEKERJAAN yang baik, dapat mengubah kehidupan seseorang, sementara jenis-jenis pekerjaan yang tepat bahkan mampu mentransformasi sebuah masyarakat. Hampir seluruh Pemerintah di Dunia ini, perlu mengedepankan isu pekerjaan guna melawan kemiskinan dan meningkatkan kemakmuran” Jim Yong Kim (Presiden Group Bank Dunia).

Kenyataannya bahwa memang ruang kerja atau akses akan lapangan pekerjaan sangat menentukan kualitas hidup seseorang. Di negara berkembang seperti Indonesia, pekerjaan tidak hanya penting sebagai sumber mata pencaharian, tetapi juga sangat penting untuk mengurangi kemiskinan.

Sekaligus sebagai salah satu cara untuk memperbaiki kondisi kemiskinan di wilayah perkotaan dan pedesaan. Serta menjauhkan seseorang dari tindak kekerasan akibat dari tidak adanya lapangan pekerjaan yang dapat menghasilkan upah/uang untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Di Indonesia, lapangan pekerjaan dapat menurunkan angka kemiskinan dan memungkinkan perempuan untuk dapat berinvestasi lebih besar pada anak-anak mereka. Baik investasi pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial lainnya. Sayangnya, lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia masih sangat jauh untuk dapat menampung tenaga kerja yang ada.

Hal ini akan mengakibatkan sulitnya angka kemiskinan dapat menurun. Sehingga Pemerintah perlu melakukan inovasi-inovasi yang dapat membuka peluang kerja bagi perempuan. Data dari BPS menunjukkan bahwa, angka tenaga kerja di Indonesia tiap tahunnya makin meningkat sedangkan lapangan pekerjaan semakin sulit di akses.

Tenaga kerja Indonesia

Dalam Juta 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Tenaga Kerja 119.4 120.3 120.2 121.9 122.4 127.8
Bekerja 111.3 113.0 112.8 114.6 114.8 120.8
Menganggur 8.1 7.3 7.4 7.2 7.6 7.0

 

Data di atas menunjukkan tenaga kerja yang terserap dan bekerja masih di dominasi oleh laki-laki. Pada tahun 2014 jumlah serapan tenaga kerja terdaftar dan bekerja sebanyak 336.573 laki-laki dan perempuan 288.614.

Hal tersebut banyak di sebabkan oleh factor budaya dan kebiasaan di Indonesia tentang posisi perempuan. Masih banyak terjadi jika perempuan tersebut telah berkeluarga maka tanggungjawab ekonomi dan menafkahi ada pada laki-laki. Sehingga perempuan tidak lagi di hitung sebagai bagian dari tenaga kerja produktif atau bukan angkatan kerja yang masih dalam hitungan tenaga kerja.

Sehingga seolah-olah posisi perempuan dalam angka angkatan kerja tidak terlihat cukup besar. Sementara tuntutan perempuan bekerja merupakan masalah umum yang ditengarai oleh beberapa faktor, seperti tingkat kemiskinan ekonomi, serta keterbatasan suami untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ketergantungan hidup pada laki-laki mendorong perempuan masuk dalam ranah persaingan pasar/lapangan kerja informal.

Persoalan lain yang juga sering terjadi dalam dunia kerja adalah adanya perbedaan upah yang di terima oleh laki-laki dan perempuan. Perbedaan itu biasanya dilatarbelakangi oleh tingkat pendidikan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, kapasitas atau kemampuan, waktu jam kerja antara perempuan dan laki-laki yang berbeda.

Kesenjangan upah juga disebabkan oleh fakta bahwa perempuan bekerja dengan jam kerja yang kurang dibandingkan dengan laki-laki. Dan jam kerja tersebut cenderung mempengaruhi karir perempuan tersebut. Laki-laki sebaliknya memiliki jam kerja yang lebih panjang, dan mencoba untuk menghindari cuti panjang (seperti cuti hamil dan cuti haid) yang sering terjadi pada perempuan.

Pengalaman dan waktu kerja yang tidak terputus tersebut akan berkontribusi pada upah yang di terima oleh laki-laki. Dan akhirnya, persoalan upah ini akan berdampak cukup serius bagi perempuan, baik bagi tingkat derajat ekonominya, kesehatan, dan pendidikan.

Melihat kenyataan tersebut pemerintah harus lebih serius dalam melihat persoalan tenaga kerja perempuan. Sehingga di bukanya lapangan pekerjaan bagi perempuan, juga harus mempertimbangkan upah dan perbaikan kualitas hidup perempuan tersebut.

Oleh: Team KKIPK

Share This